Make your own free website on Tripod.com

Menu Utama

 

 

Kirim pertanyaan

 

Tengah Sempurna

中庸

 

Kata Pengantar

 

Guruku Cheng Zi 程子 berkata,

“Yang tidak condong dinamakan Tengah,

dan Yang tidak berubah dinamakan Sempurna.

Tengah itulah Jalan Lurus Dunia dan

Sempurna itulah Hukum Tetap bagi Dunia.”

 

KitabZhong Yong中庸 (Tengah Sempurna) ini berisi tentang

ajaran keimanan bagi umat agama Khonghucu 儒教.

Zi Si 子思 karena khawatir ajaran ini akan berkurang / menyimpang isinya,

kemudian membukukan ajaran yang diperoleh langsung dari kakeknya, Kong Zi 孔子.

Dan selanjutnya ajaran ini (sampai dan) dilanjutkan oleh Meng Zi 孟子.

 

Kitab ini mula-mula membicarakan tentang Satu Hukum

yang kemudian dibentangkan  hingga meliputi berlaksa perkara

dan akhirnya kembali disimpulkan menjadi Satu Hukum.

 

Ajaran ini bila diuraikan lebih jauh lagi, maka akan dapat mengisi seluruh alam semesta dan bila diringkas lebih jauh lagi akan dapat kembali kepada Kegaiban.

Inti dari Ajaran Suci Kong Zi ini

tidak akan pernah habis walaupun diuraikan berlaksa jaman

dan semuanya itu mengandung Kebenaran Yang Universal

(dan dapat diterapkan dalam kehidupan Nyata).

 

Yang dapat baik-baik mempelajari Kitab ini hingga dapat mengerti Intisari Ajaran ini

akan dapat memakainya sepanjang hidup dan tidak akan pernah dapat menghabiskannya.

 

Bab Utama

 

Firman Tian Yang Maha Esa (yang dianugerahkan kepada manusia) dinamakan Watak Sejati .

Menempuh Hidup sesuai dengan Watak Sejati dinamakan Jalan Suci .

Ajaran tentang cara menempuh Jalan Suci itulah yang dinamakan Agama . (Tengah Sempurna Utama.1)

 

Jalan Suci itu tidak boleh terpisah biar hanya sekejap.

Jika dapat terpisah / dipisahkan, maka itu bukanlah Jalan Suci.

Maka seorang Junzi 君子 (Susilawan) harus berhati-hati dan teliti kepada (Tian) Yang Tidak Terlihat serta khawatir dan takut kepada (Tian) Yang Tidak Terdengar. (Tengah Sempurna Utama.2)

 

Tiada yang lebih nampak daripada Yang Tersembunyi itu.

Tiada yang lebih jelas daripada Yang Terlembut itu.

Maka seorang Junzi 君子 (Susilawan) harus berhati-hati pada waktu seorang diri. (Tengah Sempurna Utama.3)

 

Perasaan (hati/batin) sebelum timbulnya rasa gembira, marah, sedih, senang  dinamakan Tengah.

Setelah timbul (rasa gembira, marah, sedih, senang) tetapi masih didalam batas Tengah, dinamakan Harmonis.

Tengah itulah pokok besar daripada dunia, dan

Harmonis itulah cara menempuh Jalan Suci di dunia. (Tengah Sempurna Utama.4)

 

Bila dapat terselenggara keseimbangan (batin/hati) yang Tengah dan Harmonis, maka kesejahteraan akan meliputi seluruh langit dan bumi sehingga segenap makhluk dan benda akan terpelihara. (Tengah Sempurna Utama.5)

 

Bab I

Seorang Junzi 君子 (Susilawan)

Zhong Ni 仲尼 {nama alias Kong Zi} bersabda, “Seorang Junzi 君子 (Susilawan) hidup di dalam (sikap) Tengah Sempurna 中庸, sedang seorang Xiaoren 小人 (rendah budi) hidup menentang Tengah Sempurna.” (Tengah Sempurna I.1)

 

“Seorang Junzi 君子 (Susilawan) disebut telah Tengah Sempurna karena sepanjang waktu ia senantiasa bersikap Tengah (tidak melampaui batas).

Seorang Xiaoren 小人 (rendah budi) disebut menentang Tengah Sempurna karena dalam perbuatannya tiada sesuatu yang diseganinya (tanpa mengenal batas).” (Tengah Sempurna I.2)

 

Bab II

Jarang Yang Mencapai Tengah Sempurna

Kong Zi 孔子 bersabda, “Sungguh Sempurna Hidup di dalam Tengah Sempurna, sayang sudah lama jarang diantara rakyat yang dapat melaksanakannya !” (Tengah Sempurna II)

 

Bab III

Yang Kurang dan Yang Melampaui

Kong Zi 孔子 bersabda, “Aku sudah mengetahui mengapa Jalan Suci  (Tengah Sempurna) itu tidak banyak yang melaksanakan.

(Orang) yang pandai bertindak melampaui (sikap Tengah Sempurna)

Sedang (orang) yang bodoh tidak dapat mencapai (Tengah Sempurna).

Aku juga sudah mengetahui mengapa Jalan Suci (Tengah Sempurna) itu tidak dapat disadari dengan jelas.

(Orang) yang (mengaku dirinya) bijaksana senantiasa bertindak melampaui (Tengah Sempurna).

Sedang (orang) yang tidak mengetahui tidak dapat mencapainya. (Tengah Sempurna III.1)

 

Tiada seorangpun didunia ini yang tidak makan dan minum sepanjang hidupnya. Namun (mereka yang makan dan minum itu) jarang yang mengetahui rasanya.” (Tengah Sempurna III.2)

 

Bab IV

Keprihatinan Kong Zi

Kong Zi 孔子 bersabda, “O, demikianlah sebabnya mengapa Jalan Suci (Tengah Sempurna) itu tidak dapat dilaksanakan (di seluruh dunia).” (Tengah Sempurna IV)

 

Bab V

Suka Bertanya dan Meneliti

Kong Zi 孔子 bersabda, “Adapun yang menyebabkan Kebijaksanaan Kaisar Shun [2255 SM – 2205 SM] (Sun) itu begitu Besar adalah karena Beliau suka bertanya (segala sesuatu yang tidak dipahami) dan meneliti (hakikat tiap perkara bahkan juga) kata-kata yang paling sederhana sekalipun. (Kata-kata / Ajaran) Yang buruk disembunyikan (agar tidak mengacaukan perkara) dan yang baik disebarluaskan (demi kebaikan rakyat di seluruh dunia). Dengan mengetahui ujung dan pangkal setiap perkara dan menetapkan intinya, ia mengatur rakyat. Demikianlah sebabnya mengapa Ia terkenal sebagai Kaisar Shun (yang Bijaksana).” (Tengah Sempurna V)

 

Bab VI

Jangan Berbangga Karena Pandai

Kong Zi 孔子 bersabda, “Banyak orang berkata ‘aku pandai’, tetapi jika (orang itu) dihalau ke dalam jaring, pikatan atau perangkap, mereka ternyata tidak dapat mengetahui bagaimana caranya untuk membebaskan diri. Banyak orang berkata ‘aku pandai’, tetapi jika suatu ketika (orang itu) telah menyatakan tekad untuk hidup di dalam (sikap) Tengah Sempurna, ternyata (orang itu) tidak dapat mempertahankan sikap Tengah Sempurna itu walaupun hanya dalam waktu sebulan saja.” (Tengah Sempurna VI)

 

Bab VII

Mendekap Tengah Sempurna

Kong Zi 孔子 (Khong Cu) bersabda, “Demikianlah Hui {nama kecil Yan Yuan 顏淵} bersikap sebagai manusia (sejati / yang sempurna). Setelah memilih hidup di dalam (Jalan Suci) Tengah Sempurna dan mendapatkan Satu yang baik itu, kemudian didekaplah erat-erat didada seolah-olah takut hilang pula.” (Tengah Sempurna VII)

 

Bab VIII

Sulitnya Tengah Sempurna

Kong Zi 孔子 bersabda, “Seorang Raja Besar dapat membagi dan memberikan wilayah negaranya kepada orang lain (untuk menunjukkan kemurahan hatinya).

Seseorang dapat pula menolak kedudukan dan pangkat yang tinggi serta gaji yang besar (untuk menunjukkan bahwa ia tidak haus akan harta maupun kekayaan)

Seseorang dapat menginjak-injak mata senjata yang tajam (untuk menunjukkan keberanian dan kekuatannya)

Tetapi mereka semua itu jika diajak untuk hidup didalam Tengah Sempurna, belum tentu dapat melaksanakan (dengan sempurna).” (Tengah Sempurna VIII)

 

Bab IX

Keperwiraan

Zi Lu 子路 bertanya tentang keperwiraan. (Tengah Sempurna IX.1)

 

Kong Zi 孔子 bersabda, “Keperwiraan dari daerah selatankah, keperwiraan dari daerah utarakah, atau keperwiraan seorang Junzi 君子 (Susilawan) ?” (Tengah Sempurna IX.2)

 

“Menggunakan kesabaran dan sikap lemah lembut dalam mengajar orang lain dan tidak membalas dendam atas perbuatan yang tidak patut, inilah keperwiraan yang dimiliki oleh orang-orang di daerah selatan yang juga menjadi dasar dari keperwiraan seorang Junzi 君子 (Susilawan).” (Tengah Sempurna IX.3)

 

Rebah tidur dengan tetap mengenakan pakaian perang dan tidak terpisah dari senjatanya serta berani menerima kematian (di medan perang) dengan tidak menaruh sesal, inilah keperwiraan yang dimiliki oleh orang-orang di daerah Utara yang juga menjadi pedoman keperwiraan dari seorang prajurit sejati yang gagah berani. (Tengah Sempurna IX.4)

 

Oleh karena itu :

Seorang Junzi 君子 (Susilawan) senantiasa bersikap lemah lembut dan menjaga keharmonisan dalam hubungannya dengan orang lain, tidak mendesak seperti aliran air yang datang melanda. Ini menunjukkan betapa perwiranya dia !

Seorang Junzi bersikap Satya dan tidak berpihak atau condong ke salah satu pihak, senantiasa teguh pendiriannya dan tidak mudah tergoyahkan (oleh bujukan duniawi berupa apapun). Ini menunjukkan betapa perwiranya dia !

Apabila pemerintahan negara dalam keadaan teratur (di dalam Jalan Suci), ia tidak mengubah cita-citanya yang mulia untuk hidup di Jalan Suci. (Tidak terjebak untuk korupsi / ingkar dari Jalan Suci). Ini menunjukkan betapa perwiranya dia !

Apabila negara berada dalam kekalutan (ingkar dari Jalan Suci), sekalipun harus binasa, ia tidak akan berbuat sesuatu yang ingkar dari Jalan Suci. Demikianlah seorang Junzi menunjukkan menjunjung tinggi keperwiraannya. (Tengah Sempurna IX.5)

 

Bab X

Yang Wajar dan Tekun

Kong Zi 孔子 bersabda, “Belajar ilmu gaib (yang tidak karuan) dan melakukan mukjijat-mukjijat (untuk menarik perhatian agar orang lain takut dan percaya akan ajarannya) untuk memperoleh nama yang termasyhur di kemudian hari. (Ini adalah pekerjaan orang rendah budi yang hendak menipu rakyat). Aku (sekalipun bisa) tidak akan pernah melakukan (perbuatan rendah seperti itu).” (Tengah Sempurna X.1)

 

“Seorang Junzi 君子 (Susilawan) yang telah bertekad hidup didalam Jalan Suci (Tengah Sempurna), akan tetapi baru setengah jalan kemudian hendak membatalkan niatnya (demi untuk suatu ketenaran/kekayaan/kekuasaan). Ini belumlah pantas dinamakan seorang Junzi. Sebab seorang Junzi tidak akan pernah menghentikan usahanya di tengah jalan sebelum ia menyelesaikannya dengan sempurna.” (Tengah Sempurna X.2)

 

Seorang Junzi 君子 (Susilawan) sejati yang telah bertekad untuk hidup di dalam Tengah Sempurna, tidak akan menyesal walaupun semasa hidupnya tidak dikenal orang dan setelah mati namanya juga sampai dilupakan orang. Sesungguhnya hanya seorang Nabi yang bisa melakukan hal ini (dan pantas disebut seorang Junzi). (Tengah Sempurna X.3)

 

Bab XI

Luasnya Jalan Suci

Kong Zi 孔子 bersabda, “Jalan Suci seorang Junzi 君子 (Susilawan) itu sangat luas penggunaan (dan Kebajikan) nya tapi pada hakikatnya sangat rahasia.” (Tengah Sempurna XI.1)

 

 “Seorang lelaki dan perempuan yang bodoh sekalipun, ternyata masih dapat memahami akan kebajikan Jalan Suci tersebut. Namun bila hendak diuraikan hakikat daripada Jalan Suci yang Agung ini, bahkan seorang Nabi-pun tidak akan dapat melakukannya dengan sempurna.

Seorang lelaki dan perempuan walaupun tidak seberapa pandai, ternyata masih dapat menjalani dan menggunakan Jalan Suci ini di dalam hidupnya. Namun bila hendak menggunakan seluruh Jalan Suci Yang Luas ini, bahkan seorang Nabi-pun tidak akan pernah menghabiskan seluruh penggunaannya yang Maha Luas.

Segenap hal yang ada diantara langit dan bumi yang besar ini, ternyata masih ada orang yang bisa mencacatnya. (Akan tetapi Kebesaran Jalan Suci ini begitu ajaib dan tidak bisa dicela.)

Jalan Suci seorang Junzi 君子 (Susilawan) ini kalau dikatakan besar, ternyata memang tiada sesuatu apapun di dunia ini yang dapat memuat akan kebesarannya. (Jika coba diuraikan dalam bentuk tulisan, seluruh kertas di dunia juga tidak akan cukup untuk menuliskan keluasan dan kebesaran Jalan Suci ini).

Jalan Suci seorang Junzi ini kalau dikatakan kecil, ternyata memang tiada sesuatu apapun di dunia ini yang  dapat membelah / memecahnya. (Jika coba disimpulkan tentang hakikat Jalan Suci Yang Agung ini, ternyata lenyap di dalam kegaiban).” (Tengah Sempurna XI.2)

 

 

“Di dalam kitabShi Jing III.1.5:3詩經 (Kitab Sanjak) tertulis, ‘Elang terbang meninggi langit dan ikan menyelam menyusup air’. Sanjak ini menunjukkan bahwa Kebesaran (Kegunaan) Jalan Suci seorang Junzi 君子 (Susilawan) itu nampak jelas dan nyata di atas maupun dibawah.” (Tengah Sempurna XI.3)

 

“Jalan Suci seorang Junzi 君子 (Susilawan) itu pada dasarnya terdapat di dalam hati setiap lelaki maupun perempuan di dunia ini. Dan bila dipelihara dan dikembangkan maka akan dapat meliputi segenap hal dan segala sesuatu dimanapun diantara langit dan bumi.” (Tengah Sempurna XI.4)

 

Bab XII

Satya dan Tepaselira

Kong Zi 孔子 bersabda, “Jalan Suci itu tidaklah jauh dari manusia. Apabila ada orang yang ingin menjalankan Jalan Suci itu, lalu menjauhkan diri dari pergaulan antara sesama manusia dan melupakan 5 Hubungan Kemanusiaan, maka yang disebutnya sebagai ‘Jalan Suci’ itu bukanlah Jalan Suci yang sesungguhnya.” (Tengah Sempurna XII.1)

 

 “Di dalam kitabShi Jing I.15.5:2詩經 (Kitab Sanjak) tertulis, ‘Buatlah gagang kapak dengan kapak ! Contohnya tidak jauh.’ Kalimat ‘Buatlah gagang kapak dengan kapak’, bila dipandang selintas nampak jauh juga. Maka seorang Junzi 君子 (Susilawan) menggunakan Kemanusiaan untuk mengatur hubungan manusia dan baru berhenti hanya setelah dapat memperbaiki kesalahan.” (Tengah Sempurna XII.2)

 

“Perilaku Satya dan Tepaselira  itu tidak jauh dari Jalan Suci. Apa yang diri sendiri tidak inginkan, jangan dilakukan / diberikan kepada orang lain.” (Tengah Sempurna XII.3)

 

Ada empat perkara dalam Jalan Suci yang khawatir belum dapat Kulakukan dengan sempurna, yakni :

Melakukan kewajibanku kepada ayahKu, sebagaimana yang Aku inginkan akan diperbuat oleh putraKu kepadaKu

Melakukan kewajibanku kepada rajaKu (atasan), sebagaimana yang Aku inginkan akan diperbuat oleh pembantuKu (bawahan) kepadaKu.

Melakukan kewajibanku kepada kakakKu (orang yang lebih tua), sebagaimana yang Aku inginkan akan diperbuat oleh adikKu kepadaKu.

Melakukan kewajibanku kepada sahabatKu, sebagaimana yang Aku inginkan akan diperbuat oleh temanKu kepadaKu.

Di dalam menjalankan Kebajikan maupun berkata-kata, Aku selalu berusaha dengan hati-hati dan bersungguh-sungguh. Bila terdapat kekurangan dalam tindakanKu, Aku tidak berani tidak berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memperbaikinya dan bila ada yang berlebihan, maka Aku tidak berani untuk menghamburkannya.

Oleh karena itu didalam berkata-kata, Aku selalu berusaha mengingat (dan menyesuaikan dengan) segala perbuatanKu dan di dalam berbuat, Aku selalu berusaha menepati kata-kataKu. Bukankah hal ini yang menyebabkan seorang Junzi 君子 (Susilawan) harus selalu bersikap Dapat Dipercaya ?” (Tengah Sempurna XII.4)

 

Bab XIII

Berperilaku Tepat

“Seorang Junzi 君子 (Susilawan) berbuat sesuai dengan kedudukannya dan tidak mencampuri urusan yang tidak berkaitan dengan kedudukannya.” (Tengah Sempurna XIII.1)

 

“Di kala kaya dan mulia, ia berlaku seperti layaknya seorang yang kaya dan mulia. Di kala miskin dan berkedudukan rendah, ia berbuat seperti layaknya seorang yang miskin dan berkedudukan rendah. Di kala berdiam di antara suku bangsa Yi dan Di , ia berbuat seperti layaknya suku bangsa Yi dan Di. Di kala sedih dan menghadapi kesulitan, ia berbuat seperti layaknya orang yang sedang dilanda kesedihan dan menghadapi kesulitan.

Maka seorang Junzi 君子 (Susilawan) di dalam keadaan bagaimanapun, senantiasa merasa Gembira di dalam Jalan Suci dan selalu berhasil menjaga dirinya. (Tengah Sempurna XIII.2)

 

Di kala berkedudukan tinggi, ia tidak merendahkan martabat orang-orang yang berkedudukan lebih rendah. Dan di kala berkedudukan rendah, ia tidak menjilat kepada orang-orang yang berkedudukan lebih tinggi. Seorang Junzi 君子 (Susilawan) senantiasa menuntut dan berusaha memperbaiki dirinya sendiri dan tidak pernah menuntut ataupun mencari-cari kesalahan orang lain. Demikianlah seorang Junzi tidak pernah mempunyai rasa benci ataupun rasa menyesalkan. Seorang Junzi, ke atas tidak pernah menyesali Tian Yang Maha Esa dan ke bawah tidak pernah menyesalkan / menyalahkan sesama manusia. (Tengah Sempurna XIII.3)

 

Maka dari itu, seorang Junzi 君子 (Susilawan) senantiasa merasa tentram dan damai di dalam Jalan Suci Yang Agung dan menerima Firman Tian dengan penuh rasa syukur dan gembira. Sebaliknya seorang Xiaoren 小人 (rendah budi) senantiasa melakukan perbuatan apapun hanya sekedar untuk memuaskan nafsu dan keinginannya yang tiada batas. (Tengah Sempurna XIII.4)

 

Kong Zi 孔子 bersabda, “Perilaku orang yang belajar memanah itu menyerupai perilaku seorang Junzi 君子 (Susilawan). Jika memanahnya ternyata meleset dan tidak mengenai sasaran, maka ia akan berusaha mencari sebab-sebab kegagalannya didalam dirinya sendiri.” (Tengah Sempurna XIII.5)

 

Bab XIV

Setapak demi Setapak

Kong Zi 孔子 bersabda, “Jalan Suci seorang Junzi 君子 (Susilawan) itu seumpama hendak pergi ke tempat yang jauh, maka yang pertama-tama harus dilakukan adalah mulai menempuh jarak yang terdekat, seumpama mendaki tempat yang tinggi, maka yang pertema-tama harus dilakukan adalah mulai mendaki dari bawah (tempat yang rendah).” (Tengah Sempurna XIV.1)

 

 “Di dalam kitabShi Jing II.1.4:7-8詩經 (Kitab Sanjak) tertulis, ‘Keselarasan hidup bersama anak dan istri itu laksana alat musik yang ditabuh dengan harmonis. Kerukunan diantara kakak beradik akan menyebabkan kedamaian dan kebahagiaan di seluruh keluarga. Maka demikianlah hal pertama yang harus engkau lakukan di dalam rumah tanggamu, yakni bahagiakanlah istri dan anak-anakmu’.” (Tengah Sempurna XIV.2)

 

Kong Zi 孔子 bersabda, “Dengan demikian ayah bundapun menjadi tenteram hatinya dan merasa bersyukur dan bahagia.” (Tengah Sempurna XIV.3)

 

 

Bab XV

Tian Yang Maha Roh

Kong Zi 孔子 bersabda, “Sungguh Maha Besar Kebajikan Tian Yang Maha Sempurna !” (Tengah Sempurna XV.1)

 

“Dilihat tiada nampak, didengar tiada terdengar, namun tiada wujud di dunia ini yang tanpa Dia.” (Tengah Sempurna XV.2)

 

“Demikianlah KeAgungan Tian Yang Maha Sempurna itu yang dapat menjadikan orang sedunia untuk berpuasa, membersihkan hati dan mengenakan pakaian kebesaran lengkap bersujud bersembahyang kepadaNya. Sungguh Maha Besar Dia, hingga terasa seolah-olah berada di atas dan dikiri kanan kita !” (Tengah Sempurna XV.3)

 

“Di dalam kitabShi Jing III.3.2:7詩經 (Kitab Sanjak) tertulis, ‘Adapun kenyataan / wujud daripada Tian Yang Maha Sempurna itu tidak boleh diperkirakan, apalagi jika ditetapkan (oleh/sebagai seseorang yang mengaku putra Allah atau sebagainya)’. “(Tengah Sempurna XV.4)

 

“Demikian sempurnalah Kebesaran Tian Yang Maha Esa itu sehingga terasakan dengan jelas dan tidak dapat disembunyikan dari Iman kita. Demikianlah Dia !!!” (Tengah Sempurna XV.5)

 

 

Bab XVI

Laku Bakti Yang Besar

Kong Zi 孔子 bersabda, “Sungguh Maha Besar Laku Bakti Kaisar Shun [2255 SM – 2205 SM]. Kebajikannya bagaikan Nabi. Keagungannya bagaikan Kaisar (Pemilik dunia). Kekayaannya meliputi empat samudera dan Kuil Leluhurnya tetap dipuja dan terpelihara oleh keturunannya sepanjang masa.” (Tengah Sempurna XVI.1)

 

 “Maka dari itu, seorang yang mempunyai Kebajikan Besar, senantiasa mendapatkan berkah, kedudukan, beroleh nama harum dan dikaruniai panjang usia.” (Tengah Sempurna XVI.2)

 

“Demikianlah Tian Yang Maha Sempurna menjadikan segenap wujud dengan masing-masing dibantu sesuai dengan sifatnya. Kepada pohon yang tegak akan dibantu tumbuh dan bersemi, sementara kepada pohon yang telah miring dan hendak tumbang akan dibantu roboh.” (Tengah Sempurna XVI.3)

 

“Di dalam kitabShi Jing III.2.5:1詩經 (Kitab Sanjak) tertulis, ‘Betapa bahagia dan mengagumkannya seorang Junzi 君子 (Susilawan) itu. Kebajikannya yang gilang gemilang selaras benar dengan kehendak rakyat maupun Jalan Kemanusiaan. Ia menerima karunia Tian dan senantiasa mengajarkan akan Jalan Suci Tian. Inilah Firman Tian yang harus dilaksanakan olehnya.” (Tengah Sempurna XVI.4)

 

Maka seseorang yang berKebajikan Besar itu senantiasa menerima Firman Tian untuk mengembangkan dan menggemilangkan Kebajikan yang bercahaya itu. (Tengah Sempurna XVI.5)

 

Bab XVII

Yang Berpenerus

Kong Zi 孔子 bersabda, “Hanya Zhou Wen Wang 周文王 sajalah yang tidak pernah bersedih, karena beliau mempunyai Wang Ji 王季 sebagai ayahnya dan Zhou Wu Wang 周武王 sebagai putranya. Ayahnya yang meletakkan dasar (bagi suatu kerajaan besar) dan putranya yang melanjutkan (hingga berhasil mendirikan dinasti Zhou yang Agung).” (Tengah Sempurna XVII.1)

 

Tengah Sempurna XVII.2

“Zhou Wu Wang 周武王 melanjutkan pekerjaan Tai Wang 太王, Wang Ji 王季 dan Wen Wang 文王 mendirikan dinasti Zhou yang Agung. Beliau hanya sekali saja menggunakan pakaian perangnya dan seluruh dunia menjadi miliknya. Walaupun demikian namanya tetap harum dan termasyhur ke seluruh dunia. Keagungan (Zhou Wu Wang) bagaikan Kaisar Langit, kekayaannya meliputi empat penjuru lautan dan Kuil leluhurnya tetap dipuja rakyat dan anak cucunya terpelihara lestari. (Tengah Sempurna XVII.2)

 

Pada usia dewasa, barulah Wu Wang 武王 menerima Firman Tian sebagai Kaisar Zhou. Zhou Gong Dan 周公旦 menyempurnakan Kebajikan Wen Wang 文王 (ayahnya) dan Wu Wang 武王 (kakaknya) dengan memuliakan Tai Wang 太王 dan Wang Ji 王季 dengan gelar ‘Kaisar anumerta’ dan menyembahyanginya dengan upacara kebesaran kerajaan untuk leluhurnya itu. (Tata Cara dan aturan) Upacara Kebesaran ini diluaskan (dan diajarkan) kepada para pangeran, para pembesar, para Siswa hingga rakyat jelata.

Ditetapkan aturan bagi upacara perkabungan yang amat mulia :

Bagi seorang ayah yang berkedudukan sebagai pembesar sedang putranya hanya seorang Siswa, maka apabila sang ayah meninggal dunia, upacara penguburannya dilakukan seperti upacara penguburan seorang pembesar sedang upacara sembahyangnya dilakukan memakai tata cara upacara sembahyang seorang Siswa.

Bagi seorang ayah yang berkedudukan sebagai seorang Siswa sedang putranya adalah seorang pembesar, maka apabila sang ayah meninggal dunia, upacara penguburannya dilakukan seperti upacara penguburan seorang Siswa sedang upacara sembahyangnya dilakukan memakai tata cara upacara sembahyang seorang pembesar.

Upacara berkabung selama setahun penuh ditetapkan harus dilaksanakan oleh rakyat hingga pada tingkat seorang pembesar.

Sedang Upacara berkabung selama tiga tahun penuh ditetapkan hingga pada tingkat Raja dan Kaisar.

Demikianlah Upacara Perkabungan untuk ayah dan bunda yang Suci ini mempunyai aturan / tata cara yang seragam di seluruh dunia tanpa adanya perbedaan antara yang mulia (berkedudukan tinggi) ataupun yang hina (berkedudukan rendah).  (Tengah Sempurna XVII.3)

 

Bab XVIII

Kesempurnaan Laku Bakti

Kong Zi 孔子 bersabda, “Sesungguhnya Laku Bakti Zhou Wu Wang 周武王 dan Zhou Gong Dan 周公旦 itu telah mencapai puncaknya Kesempurnaan (daripada Laku Bakti itu sendiri).” (Tengah Sempurna XVIII.1)

 

“Adapun yang dinamakan Laku Bakti itu adalah dapat melanjutkan cita-cita mulia dengan sebaik-baiknya dan dapat meneruskan pekerjaan mulia daripada para orang tua dan leluhurnya dengan sesempurna mungkin.” (Tengah Sempurna XVIII.2)

 

“Pada saat Upacara Sembahyang Musim Semi maupun Sembahyang Musim Rontok, Kuil leluhur itu tentulah sudah diperbaiki dan dirawat sebaik-baiknya. Pada saat itu diaturlah barang-barang warisan dan pakaian-pakaian peninggalan dari leluhurnya dengan rapi serta menyajikan makanan sesuai dengan musimnya.” (Tengah Sempurna XVIII.3)

 

“Di dalam upacara sembahyang di Kuil leluhur,

Orang-orang yang bermarga sama diatur di kanan dan kiri, sehingga dengan demikian dapat dibedakan jauh dekatnya hubungan kekeluargaannya.

Orang-orang yang berlainan marga diatur menurut tingkat kedudukannya, sehingga dengan demikian dapat dibedakan tinggi rendahnya kedudukannya.

Bagi para petugas upacara diatur menurut tugasnya masing-masing, sehingga dengan demikian dapat dibedakan kecakapan masing-masing.

Kemudian para hadirin saling memberi selamat dimana pihak yang lebih muda menyampaikan minuman kepada pihak yang lebih tua. Dengan demikian pihak yang muda akan memperoleh berkah.

Setelah Upacara selesai, lalu diaturlah tempat duduk menurut warna rambut (tua dan mudanya) usia, sehingga dengan demikian dapat dibedakan tingkatan usianya.” (Tengah Sempurna XVIII.4)

 

 “Dengan menjalankan Upacara Sembahyang di Kuil Leluhur akan dapat memberikan kedudukan (yang terhormat) kepada leluhur. Ditabuhnya musik-musik mendiang orang tua / leluhur, menghormati leluhur yang juga dihormati oleh orang tua, melayani dengan hormat kepada (leluhur) yang telah mangkat seperti halnya melayani yang masih hidup serta melayani yang telah mangkat seperti halnya dulu melayani ketika masih hidup, demikianlah yang dinamakan puncaknya Laku Bakti.” (Tengah Sempurna XVIII.5)

 

 “Dengan melakukan Upacara Sembahyang Jiao dan She , berarti telah melakukan pengabdian kepada Shang Di 上帝, Tian Yang Maha Tinggi.

Dengan melakukan Upacara Sembahyang di Kuil Leluhur, berarti telah melakukan pengabdian kepada nenek moyang.

Orang yang mengerti makna Upacara Sembahyang Jiao dan She She serta Upacara Sembahyang di Kuil Leluhur serta dapat melaksanakannya dengan sempurna, maka untuk mengatur negara adalah mudah laksana melihat telapak tangan sendiri.” (Tengah Sempurna XVIII.6)

 

Bab XIX

Jalan Suci dan Pemerintahan

Rajamuda Lu Ai Gong 魯哀公 [494 SM – 467 SM] bertanya tentang Pemerintahan. (Tengah Sempurna XIX.1)

 

Kong Zi 孔子 bersabda, “Tata Negara dan  Cara Pemerintahan Zhou Wen Wang 周文王 dan Zhou Wu Wang 周武王 masih dapat diketahui dari kitab-kitab kuno yang ditulis pada potongan-potongan bambu dan kayu. Jikalau orang yang dapat mengerti dan sanggup menjelaskan hal itu masih ada, maka pemerintahan semacam itu masih ada harapan untuk dapat dijalankan. Sebaliknya jika orang yang dapat mengerti dan menjelaskannya sudah tidak ada lagi, maka pemerintahan semacam itu juga akan lenyap.” (Tengah Sempurna XIX.2)

 

 “Adapun Jalan Suci Manusia adalah berusaha menjalankan pemerintahan yang sempurna (hingga dapat membawa kesejahteraan bagi seluruh rakyat di dunia), sedangkan Jalan Suci Bumi adalah menyempurnakan pertumbuhan pohon-pohonan dan tanaman yang lain.

Maka bila ada orang yang tepat di dalam pemerintahan suatu negara, urusan pemerintahan-pun menjadi mudah laksana tumbuhnya tanaman Pu Lu 蒲盧 (semacam rumput yang mudah tumbuh).” (Tengah Sempurna XIX.3)

 

 

“Oleh karena itu, jalannya pemerintahan itu tergantung pada orangnya. Sedang untuk mendapatkan orang yang bijaksana untuk menjalankan pemerintahan itu sangat tergantung kepada tindakan membina diri daripada sang Raja sendiri. Agar dapat membina dirinya, seorang Raja haruslah berusaha untuk hidup selaras dengan Jalan Suci. Dan untuk hidup selaras dengan Jalan Suci, seorang Raja mengembangkan benih Cinta Kasih.” (Tengah Sempurna XIX.4)

 

“Cinta Kasih itulah salah satu Jalan Suci Manusia dan mengasihi orang tua (Laku Bakti) itulah yang terbesar. Kebenaran itulah pedoman wajib yang harus selalu dipegang teguh, dan memuliakan para bijaksana itulah yang terutama (harus dilakukan dalam pemerintahan). Adapun perbedaan dalam mengasihi orang tua dan memuliakan para bijaksana itu terdapat dalam (aturan) Kesusilaan.” (Tengah Sempurna XIX.5)

 

“Bila bawahan (menteri) tidak mendapat kepercayaan dari atasan (Raja), simpati rakyatpun tidak akan didapat dan pemerintahan tidak akan dapat berjalan sebagaimana mestinya.” (Tengah Sempurna XIX.6)

 

“Maka seorang Junzi 君子 (Susilawan) tidak boleh tidak, harus senantiasa membina diri.

Bila berhasrat membina diri tidak boleh tidak, harus mengabdi dengan setulus hati kepada orang tua.

Bila berhasrat mengabdi kepada orang tua tidak boleh tidak, harus dapat mengenal manusia.

Dan bila berhasrat untuk mengenal manusia tidak boleh tidak, harus mengenal kepada Tian Yang Maha Esa.” (Tengah Sempurna XIX.7)

 

“Adapun Jalan Suci yang harus ditempuh seorang Junzi 君子 (Susilawan) di dunia ini mempunyai Lima Perkara dengan Tiga Pusaka, yakni :

  1. Hubungan antara raja dengan menteri (atasan dengan bawahan)
  2. Hubungan antara ayah dengan anak
  3. Hubungan antara suami dengan istri
  4. Hubungan antara kakak dan adik
  5. Hubungan antara kawan dan sahabat.

Kelima hubungan kemasyarakatan inilah yang dimaksud dengan Lima Perkara dalam Jalan Suci seorang Junzi yang harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

  1. Kebijaksanaan
  2. Cinta Kasih
  3. Berani

Tiga sikap inilah yang dinamakan Tiga Pusaka yang harus dimiliki oleh setiap Junzi yang berhasrat hidup di dalam Jalan Suci.

Maka untuk dapat melaksanakan Lima Perkara dan Tiga Pusaka ini, seseorang haruslah mempunyai tekad yang Satu (tidak mendua).” (Tengah Sempurna XIX.8)

 

 Ada orang yang sejak lahir sudah (mempunyai bakat untuk) bijaksana.

Ada orang yang karena belajar kemudian menjadi bijaksana.

Ada juga orang yang karena telah menanggung sengsara lalu belajar dari pengalamannya dan kemudian menjadi bijaksana.

Adapun kebijaksanaan (yang dicapai ketiga orang yang disebut diatas) itu adalah Satu juga.

Ada orang yang dengan mudah tenang menjalani hidup didalam Jalan Suci

Ada orang yang karena melihat faedahnya kemudian mau menjalani hidup di dalam Jalan Suci.

Ada juga orang yang dengan susah payah dan memaksakan dirinya untuk dapat menjalani hidup di dalam Jalan Suci.

Adapun hasil yang akan dicapai oleh ketiga orang ini adalah Satu juga.” (Tengah Sempurna XIX.9)

 

Kong Zi 孔子 bersabda, ”Suka Belajar itu akan mendekatkan kita kepada Kebijaksanaan. Dengan sekuat tenaga berusaha melaksanakan Kebijaksanaan itu (dalam kehidupan sehari-hari) akan dapat mendekatkan kita kepada sikap Cinta Kasih. Dan Rasa Tahu Malu itu akan mendekatkan kita kepada sikap Berani yang sesungguhnya.” (Tengah Sempurna XIX.10)

 

Apabila telah dapat memahami inti daripada Tiga Pusaka itu, niscaya dapat pula memahami bagaimana caranya untuk membina diri.

Apabila telah dapat memahami cara untuk membina diri, niscaya dapat pula memahami bagaimana caranya untuk mengatur manusia.

Apabila telah dapat memahami cara untuk mengatur manusia, niscaya dapat pula memahami bagaimana cara untuk mengatur dunia, negara dan rumah tangga. (Tengah Sempurna XIX.11)

 

 “Untuk memimpin dunia, negara maupun rumah tangga, ada sembilan pedoman yang harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, yakni :

  1. Membina diri.
  2. Memuliakan para bijaksana.
  3. Mengasihi orang tua.
  4. Menghormati menteri-menteri besar.
  5. Tepaselira terhadap menteri-menteri bawahan.
  6. Mencintai rakyat seperti halnya mencintai anaknya sendiri.
  7. Mengundang beratus macam ahli yang sanggup memajukan negara.
  8. Menenteramkan hati orang-orang (pengunjung) yang datang dari jauh.
  9. Menimbulkan rasa patuh dari raja-raja negara lain.” (Tengah Sempurna XIX.12)

 

1.      Dengan membina diri, barulah kita dapat menegakkan diri hidup di dalam Jalan Suci.

2.      Dengan memuliakan para bijaksana, barulah kita dapat membebaskan diri dari pemikiran yang sesat dan tidak benar.

3.      Dengan mengasihi orang tua, barulah kita dapat menghindarkan diri dari rasa penyesalan orang lain.

4.      Dengan menghormati menteri-menteri besar, barulah kita dapat melimpahkan kepercayaan kita sepenuhnya kepada mereka dan mereka akan bekerja dengan baik karena telah memperoleh kepercayaan.

5.      Dengan bersikap Tepaselira terhadap menteri-menteri bawahan, maka niscaya mereka akan merasa dihargai dan akan berusaha sekuat tenaga untuk bekerja sesuai Kesusilaan.

6.      Dengan mencintai rakyat seperti halnya mencintai anaknya sendiri, akan menyebabkan mereka menjadi gampang diatur dan mudah diajak untuk berbuat Kebajikan.

7.      Dengan mengundang beratus macam ahli yang sanggup memajukan negara, niscaya semua kebutuhan negara dan rakyat akan dapat terpenuhi.

8.      Dengan menenteramkan hati orang-orang (pengunjung) yang datang dari jauh, niscaya orang-orang dari empat penjuru akan datang berbondong-bondong ke negeri kita dan ingin menjadi warga negara kita.

9.      Dengan menimbulkan rasa patuh dari raja-raja negara lain, niscaya seluruh dunia akan menjadi damai karena menaruh segan dan hormat. (Tengah Sempurna XIX.13)

 

  1. Dengan berpuasa, membersihkan hati, mengenakan pakaian lengkap dan tidak berbuat sesuatu yang bertentangan dengan Kesusilaan, inilah yang harus dilakukan dalam hal membina diri.
  2. Dengan menyingkirkan para penghasut, menjauhi foya-foya yang tiada guna, tidak mengutamakan harta melainkan hanya memuliakan Kebajikan, maka akan dapat menarik para bijaksana.
  3. Dengan menjunjung tinggi kemuliaan suatu kedudukan, memberikan gaji yang cukup serta mengimbangi apa yang disuka dan dibenci rakyat, maka hal ini akan dapat membuat rakyat jadi mengasihi orang tua.
  4. Dengan melengkapkan anggota tiap-tiap jawatan (departemen), akan dapat menarik para menteri besar untuk datang mengabdi.
  5. Dengan berlaku Satya dan Dapat Dipercaya serta memberi gaji yang layak, akan dapat menarik para menteri bawahan.
  6. Dengan mengingat waktu di dalam memerintah rakyat (untuk melakukan sesuatu) dan meringankan beban pajak, maka hal ini akan dapat menarik hati rakyat.
  7. Dengan tiap hari melakukan pemeriksaan, tiap bulan melakukan pengujian dan menimbang tentang pemberian tunjangan atas hasil pekerjaan yang berhasil baik, hal ini akan dapat menarik beratus ahli untuk bekerja di negeri kita.
  8. Dengan mengantarkan orang yang akan pergi, menyambut mereka yang datang, menghargai siapa saja yang berbuat baik dan menaruh simpati kepada yang tidak pandai, maka hal ini akan dapat menenteramkan hati orang-orang yang datang dari jauh.
  9. Dengan melanjutkan persembahyangan bagi keluarga yang putus turunan, membangun kembali tempat-tempat yang hancur (akibat peperangan), menentramkan keadaan yang kacau, menolong orang yang dilanda kesukaran, bersidang tepat pada waktunya, banyak memberi dan sedikit menerima (meminta), maka hal ini akan dapat mendatangkan rasa hormat di hati raja-raja dari negara lain. (Tengah Sempurna XIX.14)

 

“Untuk memimpin dunia memang ada Sembilan Pedoman yang terutama, tetapi untuk melaksanakan ke Sembilan Pedoman itu hanya ada Satu Dasarnya.” (Tengah Sempurna XIX.15)

 

“Di dalam menangani setiap perkara, bila sudah ada rencana / persiapan yang pasti, niscaya (kemungkinan besar) akan berhasil, tapi jika tidak ada rencana / persiapan yang pasti, niscaya akan gagal.

Di dalam berkata-kata, bila terlebih dahulu telah mempunyai ketetapan (persiapan yang matang), niscaya tidak akan gagap (tidak dapat mengucapkan apa yng dimaksudkan)..

Di dalam pekerjaan, bila terlebih dahulu telah mempunyai  ketetapan, niscaya pekerjaan itu tidak akan sampai terhenti di tengah jalan.

Di dalam menjalankan hidup selaras dengan Jalan Suci, bila sebelumnya telah mempunyai ketetapan, niscaya tidak akan sampai mengalami putus asa ataupun putus di tengah jalan.” (Tengah Sempurna XIX.16)

 

 “Apabila bawahan (menteri) tidak mendapatkan kepercayaan dari atasan (Raja), rakyat tidak akan bersimpati dan pemerintahan tidak akan berjalan dengan lancar.

Untuk mendapatkan kepercayaan dari atasan tentu ada caranya. Apabila tidak mendapat kepercayaan dari teman-teman, niscaya tidak akan mendapat kepercayaan dari atasan.

Untuk mendapatkan kepercayaan dari teman-teman tentu ada caranya. Apabila tidak patuh terhadap orang tua, niscaya tidak akan mendapat kepercayaan dari teman-teman.

Untuk dapat patuh kepada orang tua tentu ada caranya. Apabila tidak dapat memenuhi diri dengan Iman, niscaya tidak akan dapat patuh dengan setulus hati kepada orang tua.

Untuk dapat memenuhi diri dengan Iman tentu ada caranya. Apabila tidak dapat menyadari dengan benar tentang apa yang baik, niscaya tidak akan dapat memenuhi diri dengan Iman.” (Tengah Sempurna XIX.17)

 

“Iman (Ketulusan Hati Yang Suci Murni) itulah Jalan Suci Tian Yang Maha Esa. Berusaha memperoleh Iman itulah yang disebut sebagai Jalan Suci Manusia.

Yang sudah memperoleh Iman ini dengan tanpa memaksakan diri, tentu telah dapat berlaku Tengah dan tanpa harus berpikir-pikir, tentu telah dapat memperoleh Kesadaran dan hidup selaras dengan Jalan Suci. Orang yang memperoleh iman inilah yang dinamakan sebagai seorang Nabi.

Yang beroleh Iman ini tentulah orang yang setelah dapat memilih Kebenaran dan kemudian didekap sekokoh-kokohnya.” (Tengah Sempurna XIX.18)

 

 “Banyak-banyaklah belajar, pandai-pandailah bertanya, hati-hatilah memikirkannya, jelas-jelaslah menguraikannya dan sungguh-sungguhlah melaksanakannya.” (Tengah Sempurna XIX.19)

 

Memang (masih) ada hal-hal yang (mungkin) belum dapat dipelajari, tetapi hal-hal yang sudah dipelajari walaupun belum mengerti benar, janganlah dilepaskan.

Memang (masih) ada hal-hal yang (mungkin) belum ditanyakan, tetapi hal-hal yang sudah ditanyakan, jika belum dimengerti benar, janganlah berhenti bertanya.

Memang (masih) ada hal-hal yang (mungkin) belum dipikirkan, tetapi hal-hal yang sudah dipikirkan, jika belum dimengerti benar, janganlah dilepaskan begitu saja.

Memang (masih) ada hal-hal yang (mungkin) belum dapat diuraikan dengan jelas, tetapi hal-hal yang sudah diuraikan walaupun belum terperinci benar, janganlah dilepaskan.

Memang (masih) ada hal-hal yang (mungkin) belum/tidak dapat dilaksanakan, tetapi hal-hal yang sudah dilakukan walaupun belum sempurna benar, janganlah dilepaskan.

Bila orang lain dapat melakukan hal itu satu kali, diri sendiri harus berani (dan berusaha sekuat tenaga untuk) melakukannya seratus kali. Bila orang lain dapat melakukan hal itu sepuluh kali, maka diri sendiri harus berani (dan berusaha sekuat tenaga untuk) melakukannya seribu kali. (Tengah Sempurna XIX.20)

 

 “Dengan usaha seperti ini, hasil yang dihasilkanpun tidak akan terlalu mengecewakan. Yang bodoh sekalipun akan menjadi mengerti dan yang lemah sekalipun akan dapat menjadi kuat.” (Tengah Sempurna XIX.21)

 

 

Bab XX

Iman dan Kesadaran

Orang yang karena memperoleh Iman kemudian menjadi Sadar (dan hidup selaras dengan Jalan Suci), maka ini dinamai hasil perbuatan Watak Sejati. Sedang orang yang karena sadar kemudian baru memperoleh Iman, inilah yang dinamai hasil mengikuti agama. Demikianlah Iman itu (dapat) membuat orang menjadi sadar dan Kesadaran itu akan menjadikan orang beroleh Iman. (Tengah Sempurna XX)

 

Bab XXI

Yang Mencapai Puncak Iman

Hanya orang yang telah mencapai Puncak Iman di dunia ini yang dapat mengembangkan Watak Sejatinya dengan sempurna.

Karena dapat mengembangkan Watak Sejatinya dengan sempurna, maka ia akan dapat membantu orang lain mengembangkan  Watak Sejatinya.

Karena dapat membantu orang lain mengembangkan Watak Sejatinya, maka ia akan dapat pula membantu segenap wujud untuk mengembangkan Watak Sejatinya masing-masing.

Karena dapat membantu segenap wujud untuk mengembangkan Watak Sejatinya masing-masing, maka ia akan dapat membantu Langit dan Bumi untuk menyelenggarakan peleburan dan pengembangan.

Karena dapat membantu Langit dan Bumi dapat menyelenggarakan peleburan dan pengembangan, maka Ia pantas disebut telah menjadi Tritunggal dengan Langit dan Bumi. (Tengah Sempurna XXI)

 

Bab XXII

Yang Tingkat Kedua

Orang yang digolongkan sebagai tingkat kedua adalah orang yang pada akhirnya memperoleh Iman walaupun sebelumnya harus menempuh cara yang berbelit-belit.

       Iman itu menjadikan wujud.

       Wujud menjadikan kenyataan.

       Kenyataan menjadikan gilang gemilang.

       Gilang gemilang menjadikan gerak.

       Gerak menjadikan perubahan.

       Dan perubahan menjadikan peleburan.

Hanya orang yang telah memperoleh Puncak Iman di dunia ini yang dapat melakukan peleburan (bersama-sama dengan langit dan bumi). (Tengah Sempurna XXII)

 

Bab XXIII

Tanda-Tanda Ajaib

Tengah Sempurna XXIII

Jalan Suci seorang yang sudah mencapai Puncak Iman itu menjadikannya dapat mengetahui apa yang akan terjadi.

Negara yang akan berkembang, niscaya ada gejala-gejala yang membawa bahagia dan negara yang akan musnah, niscaya ada gejala-gejala yang tidak baik.

Hal itu dapat diketahui dari tanda-tanda yang terdapat pada rumput Shi atau pada tempurung kura-kura dan nampak pula di dalam gerakan-gerakan anggota badan.

Tentang datangnya celaka atau bahagia itu, yang baik akan dapat diketahui lebih dahulu dan yang tidak baik-pun akan diketahui lebih dahulu. Maka orang yang memperoleh Puncak Iman itu akan seperti malaikat. (Tengah Sempurna XXIII)

 

Bab XXIV

Iman dan Jalan Suci

Iman itu harus disempurnakan sendiri dan Jalan Suci itu harus dijalani sendiri. (Tengah Sempurna XXIV.1)

 

Iman itulah pangkal dan ujung segenap wujud. Tanpa Iman, segala wujud-pun tiada. Maka seorang Junzi 君子 (Susilawan) senantiasa  memuliakan Iman. (Tengah Sempurna XXIV.1)

 

Menyempurnakan diri sendiri bukanlah merupakan Puncak Iman, melainkan menyempurnakan segenap wujud itulah yang merupakan Puncak Iman.

Cinta Kasih itu menyempurnakan diri dan Bijaksana itu menyempurnakan segenap wujud. Inilah Kebajikan Watak Sejati dan inilah Keesaan Luar-Dalam daripada Jalan Suci. Maka dari itu setiap saat janganlah pernah melalaikannya. (Tengah Sempurna XXIV.3)

 

Bab XXV

Keabadian

Maka orang yang mencapai Puncak Iman itu tiada pernah ada saat berhenti. (Tengah Sempurna XXV.1)

 

Karena tiada saat berhenti itulah maka Dia dapat berlangsung lama.

Karena berlangsung lama itulah, maka Dia dapat menghimpun banyak pengetahuan sehingga jauhlah yang dicapaiNya.

Karena bisa mencapai yang sangat jauh, maka luas dan teballah pengertianNya.

Karena luas dan tebal pengertianNya, maka tinggi dan cemerlanglah Dia. (Tengah Sempurna XXV.2)

 

Karena luas dan tebal pengertianNya itulah maka Dia dapat mendukung segenap wujud.

Karena tinggi dan cemerlang KebajikanNya, maka dapatlah Dia melindungi segenap wujud.

Dan karena berlangsung lama dan jauh, maka dapatlah Dia menyempurnakan segenap wujud. (Tengah Sempurna XXV.3)

 

Luas dan tebal pengertianNya itulah yang menyebabkan Dia selaras dengan bumi.

Tinggi dan cemerlang KebajikanNya itulah yang menyebabkan Dia selaras dengan langit.

Lama berlangsungNya dan jauh pencapaianNya itulah yang menyebabkan Dia tidak terbatas. (Tengah Sempurna XXV.4)

 

Demikianlah maka (Yang mencapai Puncak itu),

Dengan tanpa menonjolkan dir, Diai telah terlihat dengan jelas.

Dengan tanpa bergerak, Dia telah melakukan perubahan.

Dan dengan tanpa berbuat, Dia telah menyempurnakan. (Tengah Sempurna XXV.5)

 

Jalan Suci Langit dan Bumi itu cukup dinyatakan dengan satu kalimat saja, yakni : Yang menjadikan segenap wujud itu bukanlah prinsip yang mendua, tetapi wujud yang ditumbuhkanNya itu tidaklah dapat diperkirakan. (Tengah Sempurna XXV.6)

 

Maka dikatakan Jalan Suci Langit dan Bumi itu luas, tebal, tinggi, gemilang, jauh dan abadi. (Tengah Sempurna XXV.7)

 

Adapun yang dinamakan Langit itu dari satu sudut biasa disebutkan hanya berwujud sesuatu yang guram-suram. Akan tetapi yang sesungguhnya Langit itu tiada batasnya. Matahari, bulan, bintang-bintang dan cakrawala tertebar di dalamnya demikian pula berlaksa benda diliputinya !!!

Adapun yang dinamakan Bumi itu dari satu sudut biasa disebutkan tidak lebih dari segenggam tanah. Akan tetapi yang sesungguhnya Bumi itu amat luas dan tebal. Gunung Hua dan Yue dapat didukungnya dengan tiada merasa berat, sungai dan laut dapat ditampung dengan tanpa tercecer demikian juga segenap benda didukungnya !!!

Adapun yang dinamakan Gunung itu dari satu sudut biasa disebutkan tidak lebih dari sebutir batu. Akan tetapi yang sesungguhnya Gunung itu amat luas dan besar. Rumput-rumput dan pohon-pohon tumbuh diatasnya, burung dan hewan diam disana dan berbagai permata tersimpan didalamnya.

Adapun yang dinamakan Air itu dari satu sudut biasa disebutkan tidak lebih dari segayung. Akan tetapi yang sesungguhnya Air itu sangat tidak terduga. Kura-kura besar, buaya, naga tidak bertanduk dan bertanduk, ikan, bulus semuanya hidup didalamnya demikian pula dengan barang-barang yang terdapat di dasarnya. (Tengah Sempurna XXV.8)

 

Tengah Sempurna XXV.9

Di dalam kitabShi Jing IVA.2:1詩經 (Kitab Sanjak) tertulis, ‘Hanya Firman Tian YME sajalah yang Maha Mulia dan Kekal.’ Kalimat ini hendak menyatakan, “Demikianlah sebabnya mengapa kita menyeru Tian YME dengan sebutan Tian YME.” Tertulis pula, ‘Ah, tidak jelaskah Kebajikan Murni Wen Wang 文王 itu ?’ Kalimat ini tentulah hendak menyatakan, “Demikianlah sebabnya mengapa Wen Wang disebut dengan gelar kehormatan Wen , karena Kemurniannya itulah yang tiada berkesudahan.” (Tengah Sempurna XXV.9)

 

Bab XXVI

Jalan Suci Nabi

Maha Besar Jalan Suci Nabi. (Tengah Sempurna XXVI.1)

 

Sangat Luaslah Dia, berlaksa wujud dikembangkan dan dipelihara, kemuliaanNya meninggi langit. (Tengah Sempurna XXVI.2)

 

Alangkah besar peranan yang dijalankanNya. Daripadanya ditetapkan tiga ratus macam tata susila dan tiga ribu macam peraturan. (Tengah Sempurna XXVI.3)

 

Hal ini menantikan orang di kemudian hari yang dapat melaksanakannya. (Tengah Sempurna XXVI.4)

 

Maka dikatakan, “Kalau bukan yang telah mencapai Puncak Kebajikan, tidak akan dapat Dia mencapai Puncak Jalan Suci.” (Tengah Sempurna XXVI.5)

 

Maka seorang Junzi 君子 (Susilawan) memuliakan Kebajikan Watak Sejati-nya dan menjalankan sikap Suka Belajar dan bertanya. Luas dan besarlah pengetahuannya sehingga dapat memahami apa yang lembut dan rahasia. Dengan ketinggian dan kegemilangannya ia menjalankan Laku Tengah Sempurna. Dengan mempelajari yang kuno, ia dapat memahami yang baru. Dengan Ketulusan hati yang tebal, ia menjunjung Kesusilaan.  (Tengah Sempurna XXVI.6)

 

Maka pada saat berkedudukan tinggi, ia tidak sombong dan pada saat berkedudukan rendah, ia tidak berbimbang hati.

Pada saat negara di dalam Jalan Suci, kata-katanya cukup dapat membawa bahagia dan pada saat negara ingkar dari Jalan Suci, kebungkamannya cukup untuk melindungi dirinya.

Di dalam kitabShi Jing III.3.6:4詩經 (Kitab Sanjak) tertulis, “Kesadaran Batin yang sempurna itu akan dapat melindungi diri.” Sanjak di atas ini kiranya hendak memaksudkan hal ini. (Tengah Sempurna XXVI.7)

 

Bab XXVII

Menetapi Kedudukan

Kong Zi 孔子 bersabda, “Orang bodoh tetapi suka memakai cara sendiri, berkedudukan rendah suka menonjolkan diri, hidup pada jaman ini tetapi ingin menjalankan peraturan-peraturan kuno (yang sudah lapuk), perbuatan semacam ini niscaya membawa malapetaka baginya.” (Tengah Sempurna XXVII.1)

 

Kalau bukan seorang raja, maka orang tidak berhak menetapkan Tata Susila, tidak berwenang menetapkan ukuran dan tidak berwenang pula menetapkan Kesatuan huruf. (Tengah Sempurna XXVII.2)

 

Pada saat ini di dunia setiap kereta sama rodanya, tiap kitab sama hurufnya dan tiap adat sama pelaksanaannya. (Tengah Sempurna XXVII.3)

 

Meskipun berkedudukan bila tidak berKebajikan tidak berani membuat Tata Susila dan Musik. Sekalipun ber-Kebajikan bila tidak berkedudukan, tidak berani pula membuat Tata Susila dan Musik. (Tengah Sempurna XXVII.4)

 

Kong Zi 孔子 bersabda, “Aku dapat membicarakan Kesusilaan Dinasti Xia 夏朝 (2205 SM – 1766 SM), tetapi negeri Qi 杞國 tidak cukup memberi bukti-buktinya. Lalu Kupelajari Kesusilaan Dinasti Shang 商朝 (1766 SM – 1122 SM), ternyata negeri Song 宋國 masih dapat memeliharanya. Akhirnya kupelajari Kesusilaan Dinasti Zhou 周朝 (1122 SM – 256 SM) yang saat ini masih dijalankan. Maka Aku mengikuti Dinasti Zhou.” (Tengah Sempurna XXVII.5)

 

Bab XXVIII

Hukum Yang Di Dalam Jalan Suci

Bagi orang yang memerintah dunia, ada tiga hal yang perlu diperhatikan agar dapat mengurangi kesalahan. (Tengah Sempurna XXVIII.1)

 

Betapapun baiknya peraturan yang dibuat orang besar jaman dahulu itu, tetapi kini sudah tidak ada kenyataannya lagi. Karena sudah tidak ada kenyataannya lagi inilah, maka tidak akan mendapatkan kepercayaan. Karena tidak mendapatkan kepercayaan  maka rakyatpun tidak mau mengikutinya.

Betapapun baiknya peraturan yang dibuat oleh orang yang berkedudukan rendah, ternyata tetap saja tidak akan mendapatkan penghormatan. Karena tidak mendapatkan penghormatan, maka tidak akan mendapatkan kepercayaan. Karena tidak mendapatkan kepercayaan, maka rakyatpun tidak mau mengikutinya. (Tengah Sempurna XXVIII.2)

 

Maka Jalan Suci seorang Junzi 君子 (Susilawan) itu menuntut diri sendiri sebagai pokok. Dinyatakan itu kepada rakyat banyak, diujikan itu kepada hukum Tiga Raja yang lalu itu agar tiada kesalahan, ditegakkan di antara langit dan bumi sampai tiada lagi pelanggaran dan dinyatakan itu ke hadapan Tian Yang Maha Roh sehingga tiada lagi keraguan. Maka walaupun harus menunggu beratus jaman serta munculnya seorang Nabi baru, (seorang Junzi) tidaklah (pernah) merasa was-was. (Tengah Sempurna XXVIII.3)

 

 ‘Dinyatakan ke hadapan Tian Yang Maha Roh sehingga tiada lagi keraguan’, kalimat ini menunjukkan bahwa seorang Junzi 君子 (Susilawan) itu mengenal Tian. ‘Walaupun harus menunggu beratus jaman serta munculnya seorang Nabi baru, tidak pernah merasa was-was’, kalimat ini menunjukkan bahwa seorang Junzi itu mengenal manusia. (Tengah Sempurna XXVIII.4)

 

Maka seorang Junzi 君子 (Susilawan) itu segenap gerakannya turun temurun akan menjadi Jalan Suci bagi Dunia. Perbuatannya turun temurun akan menjadi contoh hukum di dunia. Dan kata-katanya turun temurun akan menjadi pedoman bagi dunia. Maka yang jauh akan mengharapkan dan yang dekat tidak akan merasa jemu. (Tengah Sempurna XXVIII.5)

 

Di dalam kitabShi Jing IV.IB.3:2詩經 (Kitab Sanjak) tertulis, ‘Di sana tiada yang membenci, di sini tiada yang menyesali. Siang malam tak pernah lalai, maka diperolehnya pujian sepanjang masa tanpa berkesudahan.’ Belum pernah ada seorang Junzi 君子 (Susilawan) yang tidak demikian akan dapat segera memperoleh pujian di dunia ini. (Tengah Sempurna XXVIII.6)

 

Bab XXIX

Nabi Penerus dan Penyempurna

Zhong Ni 仲尼 {nama kecil Kong Zi 孔子 } meneruskan Jalan Suci Yao [2357 SM – 2255 SM] dan Shun [2255 SM – 2205 SM] serta mengembangkan Jalan Suci Zhou Wen Wang 周文王 dan Zhou Wu Wang 周武王. Di atas sesuai dengan peredaran alam semesta dan di bawah sesuai dengan air dan tanah. (Tengah Sempurna XXIX.1)

 

Beliau adalah laksana Langit dan Bumi, tiada sesuatu yang tidak didukungnya dan tiada sesuatu yang tidak diteduhinya.

Beliau adalah laksana Empat Musim saling berganti tiada hentinya, sebagai matahari dan bulan saling berseling memberi cahaya. (Tengah Sempurna XXIX.2)

 

Berlaksa wujud terpelihara dengan tidak saling mencelakakan, begitupun Jalan Suci terlaksana dengan tiada yang saling bertentangan.

Kebajikan Kecil Kong Zi 孔子 adalah ibarat air yang mengalir tiada hentinya (guna memberi kehidupan kepada segala mahkluk), sedangkan Kebajikan Besar Kong Zi adalah sebagai pokok terutama yang melakukan pembentukan dan peleburan segala sesuatu dengan tiada habisnya.

Karena itulah dikatakan mengapa Jalan Suci Langit dan Bumi itu demikian besar. (Tengah Sempurna XXIX.3)

 

Bab XXX

Nabi Bagi Semua

Tengah Sempurna XXX.1

Hanya seorang Nabi di dunia ini yang mencapai kepandaian luhur yang sempurna, yakni :

       Terang pendengarannya

       Jelas penglihatannya

       Cerdas pikirannya

       Bijaksana perbuatannya.

Dengan demikian cukuplah (syarat) Ia menjadi Pemimpin (Dunia).

Keluasan dan Kemurahan Hatinya, Kesabaran serta Kelemah-lembutanNya, cukup untuk meliputi segala sesuatu.

SemangatNya yang berkobar-kobar, Keteguhan dan Kekerasan hatinya yang tidak mudah tunduk serta Tahan Uji, cukup untuk mengendalikan dan mengatur pekerjaan besar.

KejujuranNya, KemuliaanNya, KelurusanNya serta sikapnya yang Tengah Sempurna, cukup untuk menunjukkan kesungguhan dan ketulusan hatiNya.

KedisplinanNya, Tanggung jawabNya, KetelitianNya serta sikap Kehati-hatianNya, cukup baginya untuk dapat memilahkan segala sesuatu. (Tengah Sempurna XXX.1)

 

KebajikanNya tersebar luas, dalam, tenang dan mengalir tiada henti-hentinya ibarat air yang keluar dari sumbernya. (Tengah Sempurna XXX.2)

 

Keluasan daripada KebajikanNya adalah laksana luasnya Langit yang meliputi segala sesuatu dibawahnya.

Kedalaman dan KetenanganNya adalah laksana air yang sangat dalam dan tidak dapat diduga dalamnya.

Kebajikan Beliau yang Maha Besar, Maha Luas dan Maha Dalam itu menjadikan rakyat yang melihatnya, tiada yang tidak menghormat kepadaNya. Rakyat yang mendengar kata-kataNya tiada yang tidak menaruh percaya akan KebenaranNya. Dan rakyat yang mengetahui perbuatanNya, tiada yang tidak bergembira. (Tengah Sempurna XXX.3)

 

Demikianlah kemasyhuran Nama Kong Zi 孔子 hingga tersebar meliputi seluruh Tiongkok, tersebar hingga ke tempat-tempat yang masih didiami oleh suku-suku barbar, dan dimanapun segala macam perahu ataupun kereta dapat mencapainya serta dimana saja  tenaga manusia dapat menempuhnya. KegemilanganNya meliputi semua yang dinaungi Langit dan didukung Bumi, yang disinari matahari dan bulan serta yang ditimpa salju dan embun. Semua mahkluk yang berdarah dan bernafas, tiada yang tidak menjunjung tinggi dan mencintaiNya. Maka dikatakan bahwa Kong Zi telah manunggal dengan Tian Yang Maha Esa. (Tengah Sempurna XXX.4)

 

Bab XXXI

Sandaran Yang Teguh

Hanya seorang yang telah mencapai Puncak Iman di dunia ini yang dapat membukukan dan menghimpun Kitab Besar Dunia, menegakkan Pokok Dasar Kebajikan dari Watak Sejati, dan ikut serta dalam setiap peleburan dan pemeliharaan diantara langit dan bumi. Maka adakah tempat lain yang lebih teguh sebagai tempat bersandar ? (Tengah Sempurna XXXI.1)

 

Betapa Tulus dan Sungguh-sungguh Cinta Kasih dan KebajikanNya. Betapa Dalam dan Tenang laksana air yang sangat dalam ! Keluasan dan KebesaranNya memenuhi langit. (Tengah Sempurna XXXI.2)

 

Sesungguhnyalah bahwa kalau bukan seorang yang terang pendengarannya, jelas penglihatannya, Cerdas dan Bijaksana, siapakah selain Kong Zi 孔子 yang mengerti segala sesuatu hingga mencapai Jalan Suci Tian. (Tengah Sempurna XXXI.3)

 

Bab XXXII

Maha Sempurna Tian

Di dalam kitabShi Jing I.5.3:1詩經 (Kitab Sanjak) tertulis, ‘Mantel sederhana digunakan untuk menutupi baju sulaman’. Ini menunjukkan kebencian terhadap kemewahan yang terlalu menyolok. Demikian pula dengan Jalan Suci seorang Junzi 君子 (Susilawan) yang semula nampak kabur, tapi makin hari akan makin bertambah cemerlang. Hal ini berlawanan dengan perbuatan seorang rendah budi yang suka menonjolkan diri tapi makin hari akan bertambah suram dan akhirnya musnah.

Jalan Suci seorang Junzi itu walaupun tampak tawar dan tidak menarik, tapi tidak menjemukan, tampak sederhana tapi Agung, simpatik tapi selalu menurut peraturan, dapat mengetahui yang jauh dari yang dekat, mengerti darimana datangnya angin dan menyadari apa yang tersimpan/tersembunyi dari setiap perkara baik yang terlembut atau paling rahasia sekalipun. Demikianlah apa yang ada dalam Gerbang Kebajikan itu. (Tengah Sempurna XXXII.1)

 

Di dalam kitabShi Jing II.4.8:11詩經 (Kitab Sanjak) tertulis, ‘(Ikan) walaupun tenggelam (menyelam) sampai sedalam-dalamnya, tetap saja akan terlihat dengan jelas’. Maka dari itu seorang Junzi 君子 (Susilawan) senantiasa memeriksa diri, sehingga tiada bercela. Dengan tidak mempunyai cela, barulah ia tidak merasa kecewa. Adapun mengapa seorang Junzi itu tidak dapat ditandingi adalah karena ia mempunyai sifat-sifat khusus yang tidak dapat dilihat oleh orang pada umumnya. (Tengah Sempurna XXXII.2)

 

Di dalam kitabShi Jing III.3.2.7詩經 (Kitab Sanjak) tertulis, ‘Periksalah rumahmu dan jagalah agar jangan sampai ada yang memalukan, sekalipun di bagian sudut-sudutnya yang gelap’. Maka dari itu seorang Junzi 君子 (Susilawan) pada saat tidak bepergian, ia tetap bersikap Hormat dan pada saat tidak berbicara, ia senantiasa memegang teguh sikap Dapat Dipercaya. (Tengah Sempurna XXXII.3)

 

Di dalam kitabShi Jing IV.3.2:2詩經 (Kitab Sanjak) tertulis, ‘Di dalam upacara sembahyang, hendaklah senantiasa menjaga Ketulusan Hati dan sepanjang waktu tidak berbicara yang tidak perlu dan bersikap tenang serta khidmat’. Maka dari itu seorang Junzi 君子 (Susilawan) dengan tanpa mengiming-imingi imbalan jasa, dapat membawa / mengatur rakyat untuk berbuat baik, dengan tanpa menunjukkan sikap marah, dapat menjadikan rakyat menaruh hormat melebihi ancaman hukuman dengan golok atau kampak. (Tengah Sempurna XXXII.4)

 

Di dalam kitabShi Jing IV.1.1:4詩經 (Kitab Sanjak) tertulis, ‘Bukankah Kebajikan yang gemilang dari seorang Junzi 君子 (Susilawan) itu telah dapat menjadikan beratus-ratus rajamuda dari berbagai negeri menurut perintah ?’ Maka dari itu seorang Junzi dengan sikapnya yang sungguh-sungguh, hormat dan tulus dapat membawa kedamaian di seluruh dunia. (Tengah Sempurna XXXII.5)

 

Di dalam kitabShi Jing III.3.6:6詩經 (Kitab Sanjak) tertulis, ‘Aku berkahi Kebajikan Yang Bercahaya yang tidak besar suara maupun rupa’. Kong Zi 孔子 bersabda, “Suara dan rupa itu hanya merupakan bagian yang paling akhir untuk memperbaiki rakyat.”

Di dalam kitabShi Jing III.1.1:7詩經 (Kitab Sanjak) tertulis, ‘Kebajikan itu ringan bagaikan bulu, namun ringannya bulu itu masih ada bandingannya’. Kebajikan Tian Yang Maha Esa, Maha Tinggi dan Pendukung semuanya itu tiada suara dan tiada bau. Demikianlah Kesempurnaan Tian ! (Tengah Sempurna XXXII.6)